PERSEMBAHAN JANDA MISKIN
( MARKUS 12 : 41 - 44 )
1.
Anthony
Robbins dalam bukunya “Unlimited Power”
berkata, “Rahasia kehidupan adalah memberi.” Memang, secara naluri menerima
adalah kesukaan semua orang. Namun, pemahaman itu kurang tepat. Dengan memberi
seseorang akan menerima. Dengan memberi seseorang akan meraih hasil lebih baik.
Seorang yang memberi tenaga maksimal dalam bekerja, pada waktunya akan menuai
hasil lebih banyak. Seorang atasan yang mau memberi perhatian dan menghormati
karyawannya akan dicintai dan mendapat karyawan yang loyal. Intinya, dengan
memberi seseorang justru akan melimpah.
2. Perikope ini, Yesus hendak mengajarkan kepada kita
bagaimana pemeliharaan Allah terhadap para janda, khususnya seorang janda yang
memberi dari kemiskinannya ke dalam peti persembahan.
a. Di Bait Allah, ada peti persembahan yang
berisikan 13 tempat persembahan
berbentuk terompet.
b. Yesus duduk dan sembari melihat orang-orang yang
memberikan persembahan, dan kebanyakan dari mereka yang memberi adalah dari
kekayaannya.
c. Sementara janda miskin ini, memberikan
persembahannya hanya dua peser (mata uang tipis dan terkecil nilainya pada saat
itu).
3. Melihat hal itu, Yesus memanggil para murid-Nya dan
berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke
dalam peti persembahan.”
a. Yesus memberikan pengertian, bahwa Allah mengukur
persembahan bukan dari jumlah yang
dipersembahkan tetapi dari kasih,
pengabdian, dan pengorbanan yang terkandung dalam persembahan itu.
b. Orang-orang kaya itu memberi dari kelimpahannya,
tapi si janda itu dari kehidupannya yang miskin kepada Allah.
4. Dana ini merupakan
kotak sumbangan untuk orang-orang miskin, dan ditaruh dalam Bait Allah,
karena tindakan amal dan tindakan ibadah sungguh seiring satu sama lainnya.
Maksudnya, kalau Allah dimuliakan dengan penyembahan kita, maka sudah
sewajarnya juga kalau Ia juga dimuliakan dengan bantuan kita terhadap umat-Nya
yang miskin; dan memang doa dan sedekah itu
selalu berhubungan.
a.
Kalau kita mengadakan
pengumpulan dana amal, supaya kita bisa mengajak dan mengarahkan tangan-tangan
pribadi untuk memberi bagi kaum miskin. Sangatlah baik kalau orang yang mampu
bisa menyisihkan berkat yang telah mereka terima dari Allah (1 Kor 16:2), supaya mereka siap
untuk memberi sesuatu sebagai persembahan amal, yang memang diperuntukkan
khusus untuk tujuan ini.
b. Sangat indah kalau
kita melihat orang kaya beramal, melihat banyak orang kaya
yang demikian, dan melihat mereka tidak hanya memasukkan uang, tetapi
memasukkannya dalam jumlah yang besar.
c.
Perhatikanlah, mereka yang kaya harus memberi dengan kaya pula. Jika
Allah memberi kepada kita dengan berlimpah, Ia juga mengharapkan kita untuk
memberi dengan limpah kepada orang miskin.
d. Tidaklah cukup bagi
orang kaya untuk berkata bahwa mereka memberi dalam jumlah yang sama dengan
yang diberi orang lain, karena mungkin saja orang lain memiliki kurang dari
yang mereka miliki dalam dunia ini.
e. Sebaliknya, mereka
harus memberi dalam jumlah yang seimbang dengan harta benda yang ada pada
mereka; dan jika orang kaya tidak langsung bertemu dengan orang yang memerlukan
bantuan, maka sepatutnya orang kaya tersebut mencari mereka,
supaya rela memberi.
7.
Orang Kristen dapat memberi dengan murah hati atau dengan sedikit; Allah akan
memberikan
pahala sesuai dengan pemberian mereka (Lih Mat 7:1-2). Bagi Paulus, memberi itu bukan berarti kehilangan,
melainkan merupakan semacam tabungan: itu menghasilkan keuntungan besar
bagi mereka yang memberi. Paulus tidak berbicara terutama tentang jumlah
pemberian itu, tetapi mengenai mutu dari kerinduan hati dan motivasi kita.
Janda yang miskin itu memberi sedikit, tetapi Allah telah menganggapnya banyak
karena dibandingkan dengan bagian yang diberikannya dan karena pengabdiannya
yang sempurna.
Mari kita memberi dengan ikhlas dan senang
hati.
lihat selengkapnya......