PERHATIAN
27.8.26
6.8.26
TUHAN ADALAH PEMILIK SEGALA SESUATU 1 Tawarikh 29: 11–12
TUHAN ADALAH PEMILIK SEGALA
SESUATU
1 Tawarikh 29: 11–12
Ada satu penyakit rohani yang
sangat berbahaya, tetapi sering tidak disadari, yaitu merasa diri sebagai
pemilik. Ketika seseorang mulai berkata dalam hatinya, "Aku
berhasil karena usahaku. Aku kaya karena kepintaranku. Aku dihormati karena
kemampuanku," saat itulah ia sedang mengambil kemuliaan yang
seharusnya hanya menjadi milik Tuhan. Kesombongan tidak selalu tampak dalam
kata-kata, tetapi sering tersembunyi dalam hati yang tidak lagi mengakui campur
tangan Allah.
Doa Daud dalam 1 Tawarikh 29
lahir setelah bangsa Israel dengan sukarela memberikan persembahan yang luar
biasa besar untuk pembangunan Bait Allah. Sebagai raja, Daud sebenarnya
memiliki alasan untuk berbangga diri. Ia berhasil mempersatukan bangsa, mengalahkan
musuh, mengumpulkan kekayaan, dan mempersiapkan pembangunan rumah Tuhan. Namun
yang keluar dari mulutnya bukan pujian kepada manusia, melainkan penyembahan
kepada Allah. Daud sadar bahwa emas yang dipersembahkan adalah milik Tuhan,
perak yang dikumpulkan berasal dari Tuhan, hati yang terdorong untuk memberi
juga digerakkan oleh Tuhan. Bahkan kemampuan memberi adalah anugerah dari
Allah. Karena itu, tidak ada satu pun yang dapat dibanggakan manusia di
hadapan-Nya.
Pengakuan Daud seharusnya
mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan. Rumah yang kita tempati bukanlah
milik kita yang sejati. Pekerjaan yang kita banggakan bukanlah hasil kekuatan
kita semata. Anak-anak yang kita kasihi adalah titipan Tuhan. Pelayanan yang
kita kerjakan bukanlah panggung untuk mencari nama, melainkan kesempatan untuk
memuliakan Dia. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa pun dan suatu hari nanti
kita akan meninggalkan dunia tanpa membawa apa pun. Yang akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan bukanlah seberapa banyak yang kita
miliki, tetapi seberapa setia kita mengelola apa yang telah Dia percayakan.
Ayat 12 memberikan sebuah
kebenaran yang menenangkan sekaligus merendahkan hati: "Kekayaan dan
kemuliaan berasal dari pada-Mu." Dunia mengajarkan bahwa keberhasilan
ditentukan oleh relasi, modal, kecerdasan, atau keberuntungan. Firman Tuhan
mengajarkan bahwa di balik semua itu ada tangan Allah yang berdaulat. Dialah
yang membuka pintu yang tidak dapat ditutup manusia. Dialah yang memberi hikmat
untuk mengambil keputusan. Dialah yang memberi kesehatan untuk bekerja dan
napas untuk hidup. Jika hari ini kita menikmati berkat, jangan menjadi sombong.
Jika hari ini kita sedang berkekurangan, jangan putus asa. Tuhan yang memberi
juga sanggup memelihara dan mencukupkan kebutuhan anak-anak-Nya menurut waktu
dan kehendak-Nya.
Renungan ini juga menjadi
panggilan untuk hidup sebagai penatalayan yang setia. Penatalayan tidak
hidup demi mengumpulkan sebanyak mungkin bagi dirinya sendiri, tetapi
menggunakan setiap berkat untuk tujuan Sang Pemilik. Waktu kita adalah milik
Tuhan, maka gunakanlah untuk melakukan kehendak-Nya. Talenta kita adalah milik
Tuhan, maka pakailah untuk melayani. Harta kita adalah milik Tuhan, maka
kelolalah dengan bijaksana dan murah hati. Jabatan kita adalah milik Tuhan,
maka jalankanlah dengan integritas. Seluruh hidup kita adalah milik Tuhan, maka
biarlah setiap keputusan memuliakan nama-Nya.
Hari ini marilah kita bertanya
kepada diri sendiri: Apakah saya hidup sebagai pemilik atau sebagai
pengelola? Apakah keberhasilan membuat saya semakin rendah hati atau justru
semakin jauh dari Tuhan? Apakah berkat yang Tuhan percayakan telah menjadi alat
untuk memberkati orang lain dan memuliakan nama-Nya? Jangan menunggu sampai
Tuhan mengambil kembali apa yang telah Dia titipkan baru kita menyadari bahwa
semuanya adalah milik-Nya. Selama masih ada kesempatan, marilah kita hidup
dalam penyembahan, ketaatan, dan kesetiaan. Sebab hanya Tuhan yang memiliki
kebesaran, kemuliaan, kekayaan, kuasa, dan kerajaan untuk selama-lamanya.
Kepada-Nyalah segala hormat, pujian, dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.
lihat selengkapnya......
31.7.26
ALLAH TIDAK MEMANDANG MUKA Kisah Para Rasul 10:34–35
Petrus menyadari sebuah kebenaran besar setelah Allah mempertemukannya dengan Kornelius: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang." Kasih dan keselamatan Allah tidak dibatasi oleh suku, bangsa, status sosial, ataupun latar belakang seseorang. Di hadapan Tuhan, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk datang kepada-Nya.
Allah tidak melihat penampilan luar, melainkan hati yang takut akan Dia dan hidup dalam kebenaran. Siapa pun yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dan mau menaati firman-Nya diterima oleh-Nya. Anugerah Allah terbuka bagi semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk memiliki hati yang sama seperti Tuhan. Jangan menghakimi atau membeda-bedakan orang berdasarkan kekayaan, pendidikan, jabatan, ataupun asal-usul. Kasih Kristus harus nyata melalui sikap yang menerima, mengasihi, dan melayani semua orang tanpa pilih kasih.
Hari ini, marilah kita bersyukur karena Tuhan menerima kita bukan karena kelayakan kita, tetapi karena kasih karunia-Nya. Biarlah hidup kita menjadi saluran kasih Allah, sehingga semakin banyak orang mengenal bahwa Tuhan adalah Allah yang mengasihi semua orang tanpa memandang muka.
Amin.
lihat selengkapnya......Allah Menggenapi Semua Janji-Nya Yosua 21:43-45
Allah
Menggenapi Semua Janji-Nya
Yosua
21:43-45
Setiap
manusia pernah mengalami janji yang diingkari. Ada orang yang berjanji akan
membantu, tetapi tidak datang. Ada pemimpin yang berjanji, tetapi tidak
menepatinya. Ada sahabat yang berjanji setia, tetapi meninggalkan kita. Karena
sering dikecewakan, banyak orang menjadi sulit percaya kepada janji.
Namun,
firman Tuhan dalam Yosua 21:43-45 menyatakan bahwa Allah berbeda dengan
manusia. Setelah perjalanan panjang sejak zaman Abraham, Ishak, Yakub,
perbudakan di Mesir, pengembaraan di padang gurun, hingga penaklukan Kanaan,
akhirnya Tuhan menggenapi semua yang telah dijanjikan-Nya.
Ayat 45
menjadi klimaksnya:
"Dari
segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak
dipenuhi; semuanya terpenuhi."
Inilah
kesaksian tentang kesetiaan Allah.
Latar
Belakang Teks
Kitab
Yosua ditulis setelah bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian. Pasal 21 berada
pada bagian pembagian tanah kepada seluruh suku Israel, termasuk kota-kota
orang Lewi.
Setelah
bertahun-tahun berperang, akhirnya Israel menikmati damai dan melihat bahwa
Tuhan sungguh-sungguh menggenapi firman-Nya.
1. Allah
Memberikan Apa yang Dijanjikan-Nya (ayat 43)
"TUHAN
memberikan kepada orang Israel seluruh negeri..."
Tanah
Kanaan bukan hasil kekuatan Israel semata, melainkan pemberian Tuhan.
Allah
pernah berjanji kepada Abraham (Kejadian 12:7), mengulanginya kepada Ishak
(Kejadian 26:3), Yakub (Kejadian 28:13), dan Musa (Keluaran 3:8). Berabad-abad
kemudian, janji itu menjadi kenyataan.
Pelajaran:
Janji
Tuhan mungkin membutuhkan waktu.
Penundaan
bukan berarti penolakan.
Allah
bekerja menurut waktu-Nya yang sempurna.
2. Allah
Memberikan Kemenangan dan Ketenangan (ayat 44)
"TUHAN
mengaruniakan keamanan kepada mereka..."
Setelah
perang panjang, Tuhan memberikan keamanan.
Damai
sejati berasal dari Tuhan. Dunia hanya memberi damai sementara, tetapi Kristus
memberikan damai yang tetap (Yohanes 14:27).
Aplikasi:
Orang percaya yang hidup dalam kehendak Tuhan akan mengalami damai, sekalipun
keadaan hidup belum sempurna.
3. Tidak
Ada Satu Pun Janji Tuhan yang Gagal (ayat 45)
Ayat ini
adalah inti dari seluruh bagian.
"Tidak
ada yang tidak dipenuhi."
Dalam
bahasa Ibrani, ungkapan ini menegaskan bahwa tidak satu kata pun dari janji
Tuhan jatuh ke tanah tanpa digenapi.
Bila Tuhan
berjanji menyertai, Ia menyertai.
Bila Tuhan berjanji mengampuni, Ia mengampuni.
Bila Tuhan berjanji memberi hidup kekal, Ia pasti menggenapinya.
Karena
Allah tidak pernah berdusta (Bilangan 23:19; Titus 1:2).
Ilustrasi
Seorang
ayah berjanji kepada anaknya akan datang pada acara kelulusan. Anak itu
menunggu dengan penuh harapan. Ketika sang ayah benar-benar datang, hati anak
itu dipenuhi sukacita karena ia tahu ayahnya dapat dipercaya.
Demikian
juga Allah. Ia tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya.
Tokoh
Alkitab
Abraham
menunggu puluhan tahun hingga janji tentang Ishak digenapi.
Yusuf
melihat mimpi Tuhan menjadi kenyataan setelah melewati penderitaan.
Kaleb
menerima Hebron setelah menunggu 45 tahun (Yosua 14:10-14).
Maria
menerima penggenapan janji Allah melalui kelahiran Yesus.
Ingat :
1) Percayalah
kepada janji Tuhan meskipun belum melihat hasilnya.
2) Tetap
taat walaupun prosesnya panjang.
3) Bersyukurlah
atas setiap penggenapan Tuhan dalam hidup.
4) Jadilah
pribadi yang dapat dipercaya, karena kita dipanggil meneladani Allah yang
setia.
5) Dalam
menjalankan Amanat Agung, jangan takut. Tuhan telah berjanji, "Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Matius 28:20).
Janji itu tetap berlaku bagi gereja hingga hari ini.
Kutipan
Inspiratif
"Kesetiaan
Allah tidak diukur dari cepat atau lambatnya jawaban-Nya, tetapi dari kepastian
bahwa setiap janji-Nya akan digenapi pada waktu-Nya yang sempurna."
(Muribo Pasaribu)
Kesimpulan
Yosua
21:43-45 menjadi monumen iman yang menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang
setia. Bangsa Israel akhirnya menyaksikan bahwa seluruh janji Tuhan kepada
nenek moyang mereka digenapi tanpa ada satu pun yang gagal. Demikian pula dalam
kehidupan kita, mungkin ada doa yang belum dijawab, pergumulan yang belum
selesai, atau harapan yang belum terwujud. Namun firman Tuhan mengingatkan kita
agar tidak kehilangan pengharapan. Allah yang memimpin Abraham, Musa, Yosua,
dan seluruh bangsa Israel adalah Allah yang sama yang menyertai kita hari ini.
Ia tidak pernah mengingkari firman-Nya. Karena itu tetaplah beriman, hidup
dalam ketaatan, dan setia melayani Tuhan. Pada waktunya, kita pun akan dapat
bersaksi seperti Yosua: "Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN,
tidak ada satu pun yang gagal; semuanya digenapi." Amin.
Ingatlah karya Allah Yesaya 63 : 7 - 9
4.3.26
Kode Menghasilkan Rupiah
23.4.24
HIKMAT ALLAH
HIKMAT ALLAH
1 KORINTUS 2 : 1 - 16
Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.
( 1 KORINTUS 2 : 13 )
Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus!
Sering warga jemaat mengeluh: " bagaimana saya bisa memahami ayat-ayat Alkitab? Banyak hal yang sulit kami mengerti. Banyak hal yang kurang masuk akal". Di samping itu, kita juga sering mendengar cemoohan saudara-saudara kita dari agama lain yang mengatakan bahwa agama Kristen itu tidak masuk akal; Alkitab orang Kristen itu tidak dapat dimengerti, Allah orang Kristen itu tiga, dll ... dll.
Saudara-saudara! Hal yang sama juga dialami Paulus dari jemaat Korintus. Orang Kristen di Korintus sebagian kecil berasal dari orang Yahudi tetapi kebanyakan berasal dari orang-orang yang bukan Yahudi. Masyarakatnya banyak dipengaruhi filsafat-filsafat dan kesusasteraan yang indah. Karena itu bagi orang Korintus, apa yang disampaikan Paulus tentang Kristus yang tersalib adalah sebuah kebodohan dan menjadi batu sandungan (1 Kor. 1 : 18 - 23). Orang Yahudi berpikir, bahwa bila Yesus itu dipilih Allah, bagaimana mungkin Dia harus mengakhiri hidupNya di kayu salib? Karena salib adalah tanda terkena kutukan. Karena itu, bagi Yahudi: mempercayai Yesus adalah bodoh dan tidak masuk akal. Demikian juga bagi orang Yunani. Mereka sangat menekankan hikmat dan pengetahuan; menurut mereka hikmat, kepintaran manusia berbicara, bertindak dan berbicara mampu melepaskan manusia dari kesulitan apapun. Karena itu, bila Yesus dapat ditangkap, diadili dan disalibkan, itu berarti Dia bukanlah orang bijaksana. Mempercayai Yesus bagi mereka sama dengan mempercayai orang bodoh.
Saudara-saudaraku! Hingga sekarang, masih banyak orang berpikir seperti kebodohan orang Yahudi dan Yunani di Korintus ini, dengan mengatakan: "Bagaimana mungkin Allah menghukum AnakNya sendiri? Bagaimana mungkin Yesus yang tidak bersalah dapat menggantikan hukuman manusia? Bukankah itu suatu kebodohan ?" Sehingga banyak orang dengan sinis mengatakan bahwa mempercayai Yesus sebagai Juruselamat adalah kebodohan, apalagi mengikuti prinsip-prinsip hidupnya ..... itu terlalu bodoh. (Maaf agak kasar, ini sesuai Alkitab di ayat 14)
Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus! Benarkah itu kebodohan? Mari kita simak! Pasal 1 - 3 surat 1 Korintus ini merupakan jawaban dari Tuhan melalui Paulus. Orang-orang sinis seperti itu, menurut Paulus adalah manusia-manusia duniawi. Mereka manusia tanpa Roh Allah. Di sini Paulus membedakan dua jenis manusia:
1. Manusia duniawi, (ayat 14) yaitu manusia yang berada di bawah kekuasaan hal-hal yang duniawi. Bagi mereka, materi adalah segalanya. Hidup mereka dipenuhi oleh nafsu (Efesus 2,3) nafsu untuk menang, berselisih, bersaing, nafsu mengalahkan, nafsu membalas. Mereka tidak mau tahu dengan hal yang bersifat rohaniah termasuk soal Allah, tidak mau mendengar Allah, hanya bersandar pada nalar dan emosi manusiawinya. Bagi manusia duniawi ini orang yang berbicara tentang Allah, Kristus, apalagi soal salib, merupakan kebodohan besar. Apalagi mengikut Tuhan Yesus, bagi mereka itu adalah kesalahan dan kebodohan besar. SEMOGA TIDAK ADA DARI ANTARA KITA DI SINI YANG SEPERTI INI YA.
2. Manusia rohani (ayat 15; 3,1) yaitu mereka yang sensitip/peka terhadap pekerjaan Roh Kudus, dan yang mau memberi hidupnya dituntun Roh Kudus Allah.
Bagi manusia duniawi, apa yang dilakukan Allah melalui Yesus dalam pengorbananNya di salib adalah kebodohan, karena akal manusia yang dikuasai dosa tidak dapat mengenal, memahami apalagi mengalaminya. Pikiran manusia terbatas. Bagaimanapun hebatnya kemampuan pikiran dan akal manusia memahami dan melakukan hal-hal duniawi, namun akal dan pikiran mereka tidak akan mampu memahami tindakan keselamatan yang dilakukan Allah di dalam Kristus (ayat 14 - bandingkan Yes. 55, 8-9) Itulah kelebihan atau hak istimewa yang diberikan Allah kepada kita orang percaya, kepada yang sudah mau dituntun Roh Kudus, yang disebut manusia rohani. Karena kita telah memberi diri kita dikuasai Roh Kudus, maka Allah memberi kemampuan bagi kita untuk memahami perbuatan Allah, yang kita peroleh dari Alkitab. Karena semua perbuatan Allah hanya dapat dipahami oleh orang yang telah memberi dirinya dikuasai Roh Allah.
Mengapa? Karena hanya Roh Allah yang dapat memahami Allah seluruhnya, sehingga bila Roh Allah ada di dalam kita maka Roh itu yang akan menyingkapkan segala perkara tentang Allah kepada kita (ay. 12-13). Bila seseorang sudah memberi dirinya dikuasai oleh Roh Kudus Allah, maka "Apa yang tidak pernah dilihat atau didengar oleh manusia, dan tidak pernah pula timbul dalam pikiran manusia, itulah yang disediakan Allah” bagi mereka (ay. 9b), karena mereka mengasihi Allah. Ketika kita memberi diri kita dikuasai dan dituntun sepenuhnya oleh Roh Kudus, maka kita memiliki pikiran Kristus, sehingga pikiran kita diubahkan untuk mampu memahami semua perbuatan dan karya keselamatan yang dilakukan Allah melalui Tuhan Yesus. Kita akan mengerti, mengapa Allah harus menjadi manusia hina, mau disiksa, dihina, bahkan disalibkan sebagai orang berdosa, dan mau memberikan nyawaNya. Bagi orang yang memiliki pikiran Kristus, yaitu yang sudah memberi dirinya dikuasai dan dituntun Roh Kudus, akan dengan mudah memahaminya, bahwa itulah cara Allah untuk menyelamatkan kita. Dan itulah menunjukkan bahwa hanya dengan cara tsb, hanya di dalam Tuhan Yesus sajalah ada keselamatan bagi manusia dan dunia ini. Orang yang sudah memiliki pikiran Kristus akan menerima karya penyelamatan Allah melalui Tuhan Yesus tsb dengan sepenuh hati, dan menerimanya dengan ungkapan syukur; dan dengan menerimanya, kita mengasihi. Tuhan Yesus. Tetapi itu tidak akan dipahami oleh manusia dunia, bahkan itu menjadi kebodohan dan batu sandungan bagi manusia dunia.
Saudara-saudaraku. Setelah mendengar uraian tadi, ada beberapa hal yang dapat menjadi renungan bagi kita dari nats ini.
1. Dewasa ini semakin banyak orang Kristen yang ingin mendalami imannya dengan semakin rajin membaca Alkitab, mengikuti kebaktian dan kegiatan kerohanian di banyak tempat dan denominasi, juga mengikuti kursus Alkitab. Itu sebuah hal yang kita puji dan harus dorong. Nats ini mengajar kita, semua itu dapat kita lakukan dengan satu syarat utama dan terdahulu: Beri dirimu dituntun dan dikuasai Roh Allah. Berilah akal dan ratio-mu ditaklukkan Allah, dan buka diri dan hatimu lebar-lebar dikuasai Roh Allah. Hanya Roh Allah yang dapat memberi kita kebijaksanaan memahami Firman Tuhan, sehingga Allah dan Firman tsb menjadi kekuatan bagi kita (ayat 18). Siapa yang mau mengenal Tuhan Yesus seterang benderangnya, haruslah dia memberi dirinya dikuasai dan dituntun Roh Kudus Tuhan, sehingga dia memiliki pikiran Kristus, dan dapat mempelajari Kristus dengan menggunakan pikiran Kristus tsb.
2. Demikian halnya semakin banyak warga HKBP yang ingin terlibat dalam Pekabaran Injil, dan tugas diakonia serta aktifitas gerejawi yang lain, dengan tujuan agar Firman Tuhan semakin tersebar. Kepada mereka nats ini juga mengingatkan bahwa itu dapat berbuah juga hanya oleh kekuatan Roh Allah. Juga kita harus menyadari bahwa akan banyak orang yang sinis, menganggap kita gila, bodoh bila terlibat dalam tugas mulia tsb. Namun Firman ini mengatakan pekerjaan itu bijaksana, karena kita melakukan hal yang bernilai kekal (1 Kor. 15,58).
3. Tetapi kita diingatkan, bila kita terlibat dalam usaha menyebarkan Firman Tuhan, janganlah menyebarkannya dengan menggunakan kebijaksanaan duniawi, dengan menggunakan logika atau atau dengan mengandalkan kemampuan duniawi. ITYu pasti tidak berhasil dan tidak berguna. Ajarkan, beritakan, terangkanlah Firman Tuhan, terutama tentang keselamatan yang hanya ada di dalam Tuhan Yesus, baik kepada anak-anakmu, keluargamu, familymu, teman sekantyormu, atau kepada siapapun hanya dengan menggunakan kebijaksanaan Roh Kudus, hanya dengan mengandalkan kuasa Roh Kudus. Itu bisa terjadi, bila kita memberi diri kita sepenuhnya dikuasai dan dituntun Roh Kudus, agar Roh itu yang bekerja melalui kita.
4. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak warga yang semakin bingung: "Apakah menjadi Kristen itu bukan bodoh? Bila seorang pengusaha Kristen berlaku jujur, apakah dia akan mungkin mendapat keuntungan? Dia pasti bangkrut, karena dunia usaha kita sudah dikuasai ketidak-jujuran. Bila seorang Kristen yang bekerja di pemerintahan berlaku jujur, apakah dia dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, atau bisakah dia naik pangkat atau punya jabatan tinggi? Menerapkan ajaran Kristen bagi banyak orang adalah kebodohan. Sama seperti Nietsche (penganjur Ateisme) berpendapat, bahwa ajaran Kristen seperti kasih, pengampunan, jujur, adil, rela berkorban dsb-nya itu, bukan saja bodoh tetapi amat berbahaya, tidak sesuai dengan akal sehat. “Kalu musuhmu lapar, beri dia makan bila pipi kananmu ditampar berikan pipi kananmu juga”, apakah itu bukan bodoh? Sehingga penganut rasionalisme mengatakan: Bila sekiranya Tuhan belum mati, adalah tugas manusia rasional untuk membunuhnya. Karena menganggap mengikuti Tuhan adalah kebodohan".
Karena itu ada seorang ilmuwan Perancis pemenang hadiah nobel, yang juga adalah seorang pengunjung gereja yang setia. Wartawan mewawancarainya, bagaimana caranya dia dapat menjadi seorang ilmuwan hebat sekaligus seorang Kristen yang setia beribadah, apakah itu tidak bertentangan? Professor itu menjawab: "O sama sekali tidak bertentangan. Rahasianya sederhana saja. Pada waktu di gereja mendengarkan kotbah saya melupakan bahwa saya seorang ilmuwan. Tetapi hari Senin sampai Sabtu, saya melupakan bahwa saya seorang Kristen. Beres, bukan?" Banyak orang berbuat seperti itu, karena merasa menggabungkan keduanya adalah kebodohan. Sehingga mereka menjadi Kristen "part-timer" (Kristen paruh waktu). Padahal sebenarnya hal seperti itu tidak perlu. Biarlah orang menganggap kita bodoh tetapi Tuhan menganggap kita bijaksana.
Bila Roh Allah menguasai orang percaya, kinerjanya akan semakin baik, produktivitasnya meningkat, kreativitasnya hebat, membuat dia menjadi seorang yang unggul . Mengapa? Karena Roh Allah akan membukakan dia rahasia-rahasia Allah, yang tidak pernah didengar telinga atau dilihat mata atau pernah terbersit di hati manusia (ay. 9b). Ingat Yusuf di Mesir, dan Daniel di Babilonia. Bagi Kristen manusiawi, mengikut dan meneladani Kristus adalah bodoh, lalu menempuh cara "kebijaksanaan" duniawi. Tetapi bagi orang Kristen rohani, mengikuti teladan Kristus merupakan kehebatan karena kebijaksanaan, hikmat Allah menyertai, memampukan mereka. Karena itu, kenakanlah pikiran Kristus supaya kamu mampu mengenal, memahami, menerima serta menyebarkan keselamatan yang telah disediakan Tuhan Yesus Kristus bagi dunia dan manusia. Amin.`
lihat selengkapnya......






