HIDUP DALAM IMAN DAN PENGHARAPAN
( 2 Petrus 3: 13 - 15)
== TAHUN BARU, 1 Januari 2018 ==
1. Pengantar
Svan
urat Rasul Petrus mengungkapkan berbagai persoalan hidup yang dihadapi
jemaat Kristen perdana. Sedikitnya ada tiga pokok yang diungkapkan.
Pertama, soal keberagaman ajaran, teologi dan dogma, yang berbeda.
Kedua, soal kehidupan praktis orang Kristen, tentang perilaku, akhlak
dan sikap etis dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, soal kedatangan
Kristus yang kedua kalinya, yang disebut parousia Kristus. Ketiganya
tentu tidak hanya dihadapi oleh Rasul Petrus tetapi juga oleh para rasul
yang lain. Ketiga masalah teologi tersebut selalu muncul dalam
kehidupan jemaat. Ini dapat dimaklumi karena kehidupan orang Kristen -
Jemaat Kristen - ketika itu masih dalam proses pembentukan diri sebagai
jemaat atau gereja yang mapan, baik dalam pemahaman teologi, maupun
dalam kehidupan persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus.
-
- Namun demikian, masalah eschatologi dalam arti kedatangan Yesus
Kristus kedua kalinya masih terus atau “parousia” Kristus merupakan
diskusi atau perdebatan teologis - yang masih berkelanjutan sampai masa
kini. Gereja-gereja dari berbagai denominasi masih terus memberikan
minat dan perhatian untuk terus berdiskusi, membahas, bahkan
mempergumulkan: kapan, bila – dan bagaimana Yesus Kristus akan datang
kedua kalinya? Pertanyaan Jemaat perdana itu masih terus menarik
perhatian gereja sampai masa kini. Sebagian dari pertanyaan itu
terungkap dalam surat Rasul Petrus yang kedua ini.
Mengenai
masalah kedatangan Kristus kedua kalinya, Parousia Kristus, Rasul Petrus
tidak sendirian. Paulus sudah lebih dahulu membahasnya dalam surat
kirimannya ke Jemaat Tesalonika. Agaknya Rasul Petrus juga mengetahui,
bahkan mungkin sudah membaca surat edaran Rasul Paulus ke Jemaat
Tesalonika, baik surat pertama maupun yang kedua yang ditujukan ke
Jemaat Tesalonika. Dia tahu apa yang dipergumulkan Rasul Paulus tentang
masalah parousia Kristus tersebut.
Menurut Rasul Paulus, Kristus
akan datang untuk yang kedua kalinya (1 Tes 4: 13-18). Namun
kedatangannya "ditunda atau diperlambat" - "delay", tetapi bukan di
"postpone" - dibatalkan (2 Tes 2:6). Pemahaman inilah yang dirujuk Rasul
Petrus untuk memahami kedatangan Kristus kedua kalinya di dalam
suratnya (1 Pet 3:15). Inilah salah satu faktor yang melatar-belakangi
pengiriman Surat 2 Petrus ini, yaitu untuk mengklarifikasi dan
memberikan penjelasan mengapa Kristus belum juga datang kedua kalinya.
2. Keterlambatan kedatangan Kristus
Pada
saat-saat menjelang akhir tugas Mesianis Jesus, Ia berkata tentang
kedatangan Anak Manusia: "Langit dan Bumi akan berlalu, tetapi
perkataan-Ku tidak akan berlalu". (Mark 13:31). Bahkan lebih terperinci
lagi, Jesus berkata:"Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu,
sebelum semuanya itu terjadi" (Mark 13:30). Agaknya pernyataan Yesus
inilah yang ditangkap Rasul Paulus ketika ia menulis dalam suratnya
tentang kedatangan Tuhan Yesus Kristus kedua kalinya dengan mengatakan:
"Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan
mati semuanya, tetapi kita akan diubah, dalam sekejab mata pada waktu
bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang
mati akan dibangkitkan dalam kerajaan yang tidak dapat binasa dan kita
semua akan diubah" (1 Kor 15:51-52). Dari sini Rasul Paulus yakin, bahwa
semuanya itu akan terjadi dalam waktu dekat, dan Rasul Paulus akan
mengalami semuanya dalam keadaan masih hidup di dunia ini.
Akan
tetapi sampai penghujung akhir hidup Rasul Paulus kedatangan Kristus
kedua kalinya tidak juga kunjung datang. Menurut Rasul Paulus
penyebabnya adalah karena terjadi "keterlambatan Parousia Kristus",
sebab adanya yang memaknai kedatangan Kristus (2 Tes 2:6) yang
mengakibatkan keterlambatan (delay) dan bukan penundaan (postpone)
kedatangan Kristus (2 Tes 2:6-7), yaitu akibat perbuatan orang-orang
durhaka, para penghianat dan para pembelot dari kesetiaan kepada
Kristus. Namun demikian tidak dapat disangkal bahwa Rasul Paulus pernah
berharap bahwa kedatangan Kristus itu terjadi pada masa hidupnya.
Pengharapan
Rasul Paulus tentang parousia Kristus ini hanya dapat dipahami dan
diimani dengan keyakinannya sendiri yang menyatakan: "Sebab pengetahuan
kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang
sempurna itu tiba maka yang tidak sempurna itu akan lenyap" (1 Kor 13:
9-10). Itulah sebabnya Paulus sampai kepada kesimpulan bahwa kebenaran
orang Kristen tidak didasarkan di atas nubuatan melainkan di atas iman,
pengharapan dan kasih (1 Kor. 13:13)
Semua tulisan Paulus,
terlebih pergumulannya tentang Parousia Kristus dalam 1 dan 2
Tessalonika dipastikan telah dibaca rasul Petrus dengan seksama. Petrus
mengetahui masalah dan pergumulan yang dihadapi rasul Paulus sebagaimana
terungkap dalam suratnya, khususnya dalam 2 Petrus 13:15-16.
"Seperti
juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut
hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua
suratnya, ketika ia berbicara tentang perkaraperkara ini. Dalam suratnya
itu ada hal-hal yang sukar dipahami, sehingga orang-orang yang tidak
memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbaklikkannya menjadi
kebiasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan
tulisan-tulisan yang lain (2 Petrus 3:15- 16). Dengan pernyataan Rasul
Petrus ini, ia tahu dan tentu sudah membaca tulisan-tulisan Rasul
Paulus, tentang berbagai hal, khususnya tentang Parousia Kristus. Ia
juga tahu polemik yang terjadi dengan adanya reaksi orang lain terhadap
tulisan Paulus tersebut. Oleh karena itu tulisan rasul Petrus ini,
khususnya 2 Petrus, dimaksudkan untuk meluruskan dan menekankan ulang
tentang Parousia Kristus tersebut.
3. Kepastian kedatangan Kristus
Rasul
Petrus dalam suratnya mengatakan adanya keterlambatan kedatangan
Kristus, oleh karena itu perlu upaya "mempercepat" kedatangan Kristus
tersebut (2 Petrus 3: 12). Diakui adanya pengajaran palsu yang
mangatakan bahwa Tuhan tidak lalai akan janjiNya atau Tuhan tidak
menepati janji-Nya (2 Pet.3:9). Petrus justru menekankan karena Tuhan
menghendaki agar semuanya selamat, lalu diberi kesempatan berbalik dan
bertobat atas segala dosanya, sehingga semua kedapatan tidak bercacat
dan tidak bernoda dihadapan-Nya (2 Pet. 3:12-14).
Rasul Petrus
balik berpendapat sekalipun "percepatan" kedatangan-Nya diharapkan,
tetapi justru masih diberi waktu untuk menantikan Parousia Kristus
sebagai peluang untuk memperoleh keselamatan, karena tujuannya agar
tidak seorangpun dari orang yang percaya yang kedapatan masih bercacat
dan bernoda. Oleh karena itu, demikian rasul Petrus berargumentasi logis
tetapi penuh pengharapan, "anggaplah kesabaran Tuhan sebagai kesempatan
untuk memperoleh keselamatan" (2 Petrus 3:15)
Argumentasi
teologis dari Rasul Petrus justru merupakan peluang dan kesempatan
sekaligus memperluas jangkauan keselamatan. Keselamatan yang diberikan
Tuhan selalu berkembang dengan "waktu" dan "peluang" - secara terbuka.
kepada siapa saja.
Namun tidak selamanya ada “waktu" (kronos) dan
"peluang" (kairos) itu. Oleh karena itu tetaplah hidup dalam iman dan
pengharapan itu - “dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh" tersebut
(1 Petrus 3: 17)
Dengan demikian surat Rasul Petrus ini kembali
menekankan iman dan pengharapan kedatangan Kristus kedua kalinya.
"Anggaplah kesabaran Tuhan sebagai kesempatan untuk beroleh selamat" -
sebab maksud dan tujuannya adalah agar tidak seorangpun kedapatan
bercacad dan tak bernoda di hadapan-Nya
Jadi kesempatan masih
terbuka. Peluang masih ada dan waktu masih tersedia untuk bertobat,
kembali ke jalan yang benar dan selanjutnya berjalan di jalan Tuhan.
Dengan demikian semuanya kita ini akan menjadi pewaris dan penerima
keselamatan yang dari pada Tuhan Yesus Kristus. Kiranya Tuhan senantiasa
memberkati dan melindungi kita sekalian...amen.
lihat selengkapnya......