PERHATIAN

------------------- SELAMAT DATANG -------------------

6.8.26

TUHAN ADALAH PEMILIK SEGALA SESUATU 1 Tawarikh 29: 11–12




TUHAN ADALAH PEMILIK SEGALA SESUATU

1 Tawarikh 29: 11–12

 

 Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.

 

 

Ada satu penyakit rohani yang sangat berbahaya, tetapi sering tidak disadari, yaitu merasa diri sebagai pemilik. Ketika seseorang mulai berkata dalam hatinya, "Aku berhasil karena usahaku. Aku kaya karena kepintaranku. Aku dihormati karena kemampuanku," saat itulah ia sedang mengambil kemuliaan yang seharusnya hanya menjadi milik Tuhan. Kesombongan tidak selalu tampak dalam kata-kata, tetapi sering tersembunyi dalam hati yang tidak lagi mengakui campur tangan Allah.

Doa Daud dalam 1 Tawarikh 29 lahir setelah bangsa Israel dengan sukarela memberikan persembahan yang luar biasa besar untuk pembangunan Bait Allah. Sebagai raja, Daud sebenarnya memiliki alasan untuk berbangga diri. Ia berhasil mempersatukan bangsa, mengalahkan musuh, mengumpulkan kekayaan, dan mempersiapkan pembangunan rumah Tuhan. Namun yang keluar dari mulutnya bukan pujian kepada manusia, melainkan penyembahan kepada Allah. Daud sadar bahwa emas yang dipersembahkan adalah milik Tuhan, perak yang dikumpulkan berasal dari Tuhan, hati yang terdorong untuk memberi juga digerakkan oleh Tuhan. Bahkan kemampuan memberi adalah anugerah dari Allah. Karena itu, tidak ada satu pun yang dapat dibanggakan manusia di hadapan-Nya.

Pengakuan Daud seharusnya mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan. Rumah yang kita tempati bukanlah milik kita yang sejati. Pekerjaan yang kita banggakan bukanlah hasil kekuatan kita semata. Anak-anak yang kita kasihi adalah titipan Tuhan. Pelayanan yang kita kerjakan bukanlah panggung untuk mencari nama, melainkan kesempatan untuk memuliakan Dia. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa pun dan suatu hari nanti kita akan meninggalkan dunia tanpa membawa apa pun. Yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa setia kita mengelola apa yang telah Dia percayakan.

Ayat 12 memberikan sebuah kebenaran yang menenangkan sekaligus merendahkan hati: "Kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu." Dunia mengajarkan bahwa keberhasilan ditentukan oleh relasi, modal, kecerdasan, atau keberuntungan. Firman Tuhan mengajarkan bahwa di balik semua itu ada tangan Allah yang berdaulat. Dialah yang membuka pintu yang tidak dapat ditutup manusia. Dialah yang memberi hikmat untuk mengambil keputusan. Dialah yang memberi kesehatan untuk bekerja dan napas untuk hidup. Jika hari ini kita menikmati berkat, jangan menjadi sombong. Jika hari ini kita sedang berkekurangan, jangan putus asa. Tuhan yang memberi juga sanggup memelihara dan mencukupkan kebutuhan anak-anak-Nya menurut waktu dan kehendak-Nya.

Renungan ini juga menjadi panggilan untuk hidup sebagai penatalayan yang setia. Penatalayan tidak hidup demi mengumpulkan sebanyak mungkin bagi dirinya sendiri, tetapi menggunakan setiap berkat untuk tujuan Sang Pemilik. Waktu kita adalah milik Tuhan, maka gunakanlah untuk melakukan kehendak-Nya. Talenta kita adalah milik Tuhan, maka pakailah untuk melayani. Harta kita adalah milik Tuhan, maka kelolalah dengan bijaksana dan murah hati. Jabatan kita adalah milik Tuhan, maka jalankanlah dengan integritas. Seluruh hidup kita adalah milik Tuhan, maka biarlah setiap keputusan memuliakan nama-Nya.

Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya hidup sebagai pemilik atau sebagai pengelola? Apakah keberhasilan membuat saya semakin rendah hati atau justru semakin jauh dari Tuhan? Apakah berkat yang Tuhan percayakan telah menjadi alat untuk memberkati orang lain dan memuliakan nama-Nya? Jangan menunggu sampai Tuhan mengambil kembali apa yang telah Dia titipkan baru kita menyadari bahwa semuanya adalah milik-Nya. Selama masih ada kesempatan, marilah kita hidup dalam penyembahan, ketaatan, dan kesetiaan. Sebab hanya Tuhan yang memiliki kebesaran, kemuliaan, kekayaan, kuasa, dan kerajaan untuk selama-lamanya. Kepada-Nyalah segala hormat, pujian, dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.


No comments: