TUHAN ADALAH PEMILIK SEGALA
SESUATU
1 Tawarikh 29: 11–12
Ada satu penyakit rohani yang
sangat berbahaya, tetapi sering tidak disadari, yaitu merasa diri sebagai
pemilik. Ketika seseorang mulai berkata dalam hatinya, "Aku
berhasil karena usahaku. Aku kaya karena kepintaranku. Aku dihormati karena
kemampuanku," saat itulah ia sedang mengambil kemuliaan yang
seharusnya hanya menjadi milik Tuhan. Kesombongan tidak selalu tampak dalam
kata-kata, tetapi sering tersembunyi dalam hati yang tidak lagi mengakui campur
tangan Allah.
Doa Daud dalam 1 Tawarikh 29
lahir setelah bangsa Israel dengan sukarela memberikan persembahan yang luar
biasa besar untuk pembangunan Bait Allah. Sebagai raja, Daud sebenarnya
memiliki alasan untuk berbangga diri. Ia berhasil mempersatukan bangsa, mengalahkan
musuh, mengumpulkan kekayaan, dan mempersiapkan pembangunan rumah Tuhan. Namun
yang keluar dari mulutnya bukan pujian kepada manusia, melainkan penyembahan
kepada Allah. Daud sadar bahwa emas yang dipersembahkan adalah milik Tuhan,
perak yang dikumpulkan berasal dari Tuhan, hati yang terdorong untuk memberi
juga digerakkan oleh Tuhan. Bahkan kemampuan memberi adalah anugerah dari
Allah. Karena itu, tidak ada satu pun yang dapat dibanggakan manusia di
hadapan-Nya.
Pengakuan Daud seharusnya
mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan. Rumah yang kita tempati bukanlah
milik kita yang sejati. Pekerjaan yang kita banggakan bukanlah hasil kekuatan
kita semata. Anak-anak yang kita kasihi adalah titipan Tuhan. Pelayanan yang
kita kerjakan bukanlah panggung untuk mencari nama, melainkan kesempatan untuk
memuliakan Dia. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa pun dan suatu hari nanti
kita akan meninggalkan dunia tanpa membawa apa pun. Yang akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan bukanlah seberapa banyak yang kita
miliki, tetapi seberapa setia kita mengelola apa yang telah Dia percayakan.
Ayat 12 memberikan sebuah
kebenaran yang menenangkan sekaligus merendahkan hati: "Kekayaan dan
kemuliaan berasal dari pada-Mu." Dunia mengajarkan bahwa keberhasilan
ditentukan oleh relasi, modal, kecerdasan, atau keberuntungan. Firman Tuhan
mengajarkan bahwa di balik semua itu ada tangan Allah yang berdaulat. Dialah
yang membuka pintu yang tidak dapat ditutup manusia. Dialah yang memberi hikmat
untuk mengambil keputusan. Dialah yang memberi kesehatan untuk bekerja dan
napas untuk hidup. Jika hari ini kita menikmati berkat, jangan menjadi sombong.
Jika hari ini kita sedang berkekurangan, jangan putus asa. Tuhan yang memberi
juga sanggup memelihara dan mencukupkan kebutuhan anak-anak-Nya menurut waktu
dan kehendak-Nya.
Renungan ini juga menjadi
panggilan untuk hidup sebagai penatalayan yang setia. Penatalayan tidak
hidup demi mengumpulkan sebanyak mungkin bagi dirinya sendiri, tetapi
menggunakan setiap berkat untuk tujuan Sang Pemilik. Waktu kita adalah milik
Tuhan, maka gunakanlah untuk melakukan kehendak-Nya. Talenta kita adalah milik
Tuhan, maka pakailah untuk melayani. Harta kita adalah milik Tuhan, maka
kelolalah dengan bijaksana dan murah hati. Jabatan kita adalah milik Tuhan,
maka jalankanlah dengan integritas. Seluruh hidup kita adalah milik Tuhan, maka
biarlah setiap keputusan memuliakan nama-Nya.
Hari ini marilah kita bertanya
kepada diri sendiri: Apakah saya hidup sebagai pemilik atau sebagai
pengelola? Apakah keberhasilan membuat saya semakin rendah hati atau justru
semakin jauh dari Tuhan? Apakah berkat yang Tuhan percayakan telah menjadi alat
untuk memberkati orang lain dan memuliakan nama-Nya? Jangan menunggu sampai
Tuhan mengambil kembali apa yang telah Dia titipkan baru kita menyadari bahwa
semuanya adalah milik-Nya. Selama masih ada kesempatan, marilah kita hidup
dalam penyembahan, ketaatan, dan kesetiaan. Sebab hanya Tuhan yang memiliki
kebesaran, kemuliaan, kekayaan, kuasa, dan kerajaan untuk selama-lamanya.
Kepada-Nyalah segala hormat, pujian, dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

No comments:
Post a Comment