SUKACITA DALAM TUHAN
(Mazmur 69 : 30-37)
Ada sebuah
pribahasa lama dikenal luas di negeri ini, sangatlah familiar ketika dikatakan:
“jangan lupa kacang pada kulitnya.” Biasanya ini dimaksudkan untuk orang yang
tidak tahu dan tidak mau membalas budi. Dan lebih pedas lagi pribahasa lain
yang mengatakan: “air susu dibalas dengan air tuba.” Sudah ditolong tetapi
justru kembali menyerang yang ditolong. Jelaslah ini seperti umpama Batak yang
mengatakan: “songon toguon lombu” karena memang ketika lembu dilepaskan dari
jurang biasanya akan berbalik menyerang yang menolongnya.
Jemaat
Tuhan yang terkasih, tentu semuanya itu adalah hal-hal yang diluar dan yang
tidak diinginkan Tuhan. Justru tiap orang diinginkan Tuhan selalu sadar akan
kebaikan Tuhan. Mengingat budi baik, mengingat hal-hal yang baik lewat
perbuatan orang lain sekecil apapun bentuknya itu. Ada sebuah cerita seperti
ini, di suatu tempat ada seekor anjing tua yang duduk di bawah sebuah pohon
dari tahun ke tahun sampai akhir hidupnya. Ternyata ketika diselidiki mengapa
anjing itu seperti itu ialah karena tuannya meninggal di tempat itu. Si anjing
baik budi itu tetap menanti dan menanti bilamana suatu saat tuannya kembali.
Tetapi dia tidak pernah ketemu lagi sampai akhir hayatnya. Dengan mengingat
kebaikan akan menimbulkan kesetiaan karena sukacita berlimpah atas kebaikan
tersebut.
Di
Minggu-minggu Passion saat ini, kita mengenang penderitaan Yesus yang
mempersembahkan diriNya sesuai dengan kehendak BapaNya. Yesus setia menjalani
derita, pergumulan, terror dan pergumulan bahkan Dia disalib dan mati untuk
menggantikan posisi manusia yang berdosa agar siapapun yang percaya padaNya
tidak dihukum tapi memperoleh hidup yang kekal. Maka itu, patutlah kita mengucap
syukur kepada Allah dalam Yesus Kristus atas kebaikanNya dan bersukacita dalam
penderitaan selama di dunia. Khususnya saat ini seluruh dunia sedang menghadapi
pergumulan bersama dikarenakan cepatnya penyebaran virus covid 19. Pergumulan
ini hendaknya dihadapi bersama-sama dengan mengandalkan hikmat Tuhan sehingga
kita menjadi bijaksana. Selama kita hidup pastilah akan menghadapi pergumulan
namun hadapilah itu dengan bijak agar kita selamat. Seperti firman Tuhan
menasehatkan dalam Amsal 27:12: “Kalau orang bijak melihat malapetaka,
bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu
kena celaka.” Marilah kita bersama-sama menghadapi pergumulan global dengan
bijak sesuai dengan kehendakNya agar sukacita melimpah untuk kemuliaan namaNya.
Amin.
MP

No comments:
Post a Comment